Ramai Transportasi Online, Belajarlah Soal Transportasi Publik ke Jepang

Masojek.com – Nah bicara soal transportasi publik, mungkin bisa meniru ke Negeri Sakura. Setelah porak-poranda karena perang dunia ke-2, Jepang bangkit termasuk urusan transportasi publik. Infrastruktur dibangun dengan benar. Artinya sarana dan prasarana disiapkan untuk puluhan tahun yang akan datang.

Mengerucut ke lingkup lebih kecil, bisa melihat pada sarana kereta api. Bayangkan di sana operator kereta api tak hanya satu tapi ada beberapa. Jadi rel kereta pun ada banyak dan mencukupi mengangkut banyak orang.

Tak heran saat kereta bergerak di sisinya ada beberapa kereta lain yang juga bergerak bersamaan, bak kereta balapan. Kereta itu kemudian berpisah di percabangan menuju ke stasiun terdekat sesuai operator kereta masing-masing. Rel untuk kereta luar kota atau kereta cepat shinkansen juga berbeda. Semua masing-masing ada relnya.

Tak heran, moda kereta menjadi favorit. Jutaan orang di Jepang bergerak setiap harinya dengan kereta. Kemudian mereka turun dan berjalan ke kantor masing-masing. Lokasi stasiun biasanya dekat dengan perkantoran, lagipula untuk berjalan kaki amat nyaman. Trotoar luas, enak dipakai berjalan kaki.

Untuk bus juga tersedia. Bus biasanya ada di dekat stasiun. Bus-bus itu memadai dan bagus. Jam keberangkatan bus ada jadwalnya, sama seperti kereta, semua terjadwal dan berangkat tepat waktu. Untuk naik angkutan umum juga cukup dengan e-money yang disebut suica. Simpel bukan? Di sana moda transportasi semacam ojek jelas tidak ada.

Berbeda dengan di Indonesia, untuk urusan transportasi publik perlu bicara infrastruktur. Kereta saja misalnya, hanya ada dua jalur rel tersedia untuk commuter line, satu ke arah Jakarta dan satu lagi arah sebaliknya. Jadi kereta yang semestinya menjadi sarana utama transportasi publik di kota masih amat jauh dari memadai.

Kemudian, umumnya setelah turun dari kereta di Jakarta, pengguna mesti naik angkutan umum lainnya. Persoalan lainnya, angkutan umum yang tersedia juga sebagian besar amat jauh dari kata memadai. Bukan operator yang memegang angkutan umum Angkot atau bus. Di Indonesia masih individu, jadi soal pertanggungjawaban kenyamanan dan lain-lain sulit dikontrol.

Jadi memang perlu kerja keras membenahi infrastruktur dan angkutan publik. Bukan hal yang mudah, tapi kalau pemerintah berkehendak pasti bisa. Kalau itu sudah dibenahi dan sukses, bagaimana nasib Go-Jek dkk ya?